Tamu Terakhir

Oleh: Muhamad Rivai

Organ tunggal sudah tak terdengar sejak satu jam yang lalu dan tamu-tamu mulai surut. Ningrum menahan diri untuk tak menggosok matanya yang terasa perih, lalu melirik ke arah Dimas, suaminya, yang juga tampak tak kalah lelah. Di halaman rumahnya, orang-orang sudah mulai membereskan kursi, sementara hidangan resepsi sudah hampir habis. Tak ada lagi yang datang dari arah gerbang kecuali angin dingin dan nyamuk-nyamuk.

“Nggak akan ada tamu lagi, kan?” gerutu Dimas.

“Mungkin masih,” ucap Ningrum pelan, seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

“Ah, kalau pun ada, paling juga besok. Sekarang kayanya kita bisa istirahat.”

Sepasang suami istri yang baru selesai makan tampak langsung berpamitan ketika menyadari bahwa kursi-kursi mulai diangkat. Merekalah tamu terakhir di acara pernikahan itu. Ningrum menghela napas sambil (lebih…)

Wajah Menyeramkan

Oleh: Damar Hening Sunyiaji

Wajah menyeramkan selalu datang tiba-tiba saat aku kelelahan atau kaget karena sesuatu. Misalnya saja, saat aku tertidur di dalam taksi lantas terbangun secara tidak sengaja, maka wajah menyeramkan itu berkelebat seperti kilasan lampu flash kamera yang menjepretku, berkedip lantas lenyap tak bersisa. Aku tak tahu dari mana datangnya dan bila kuingat-ingat lagi, tak ada sesuatu yang tampak darinya selain ketakutan yang datangnya begitu cepat lalu hilang seusai kudapatkan kembali kesadaranku.

Dalam minggu-minggu ini, wajah menyeramkan itu menghantuiku berkali-kali. Aku tidak bisa menjabarkan sama sekali seperti apa pola matanya, atau bentuk hidung dan mulutnya. Yang jelas, perasaan takut itu selalu membayang secepat kerjapan kilat, mengagetkanku, lalu meninggalkanku dalam lamunan beberapa saat. Dan setiap kali aku berhasil menapaki pikiranku, kutatap sekeliling dan berusaha mencari-cari asal kerjapan tersebut. Apakah cahaya yang lolos dari jendela kantor atau bunyi AC yang agak macet? Aku sama sekali tak tahu. (lebih…)

Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

Seorang teman pernah berkata bahwa baginya dalam cerita horor selalu ada tokoh yang dihukum karena berbuat salah. Ia mungkin bukan fans horor, tapi pendapatnya mencerminkan pesan yang ditangkap kebanyakan orang dari cerita horor: sekolompok turis yang nekat masuk ke hutan terlarang akhirnya kesurupan, anak muda yang tidak peduli dengan tradisi leluhur dihantui suara gamelan, lelaki pemerkosa dikejar-kejar hantu korbannya. Inti cerita horor bisa disederhanakan dalam rumus “tokoh A melakukan kesalahan X sehingga menanggung akibat menakutkan berupa Y”.

Benarkah cerita horor adalah alat yang digunakan untuk menghukumi dan menghakimi karakter yang (menurut penulisnya) telah melakukan kesalahan?

Bukankah kisah tentang kejahatan yang dikalahkan oleh kebaikan sangat lazim ditemukan dalam jenis cerita apa pun? Saya menanyakan hal ini di forum diskusi. Dari berbagai komentar yang masuk, kesimpulannya adalah: tidak selalu. Seorang tokoh tidak selalu dihantui karena ia pernah berbuat salah atau melanggar peraturan. Sebagian tokoh dalam cerita horor dihantui atau bahkan diteror hanya karena sedang apes: pengacara yang datang ke kastil terpencil untuk mengurus transaksi real estate, pengendara mobil yang salah jalan dan tersesat, atau orang tua yang mengadopsi anak yang awalnya terlihat polos. Penulis horor tidak selalu “menyiksa” tokohnya karena ingin menujukkan benar-salah, monster dan hantu  juga tidak selalu punya motif untuk membalas dendam, tapi seperti kata Alfred di The Dark Knight, “some men just want to see the world burn“. (lebih…)

Malam Jumat: Tangisan Bayi

3821456584_6ecc4b6a0a_oBeberapa hari belakangan, sering terdengar suara tangis bayi di kompleks perumahan kami. Suaranya pun hanya terdengar setiap malam, menjelang azan Magrib hingga tengah malam. Memang, di sebelah rumah kami, ada tetangga yang baru melahirkan. Jadi kami semua berpikir itu mungkin anak tetangga. Satu bulan berlalu, suara tangis itu semakin lama semakin kencang. Bahkan rasanya seperti terdengar dari dalam rumah.

Hari itu keluarga besar Mama menelepon, karena nenek tiba-tiba sakit. Jadilah saya menjaga rumah sendirian. Menjelang tengah malam, saya terbangun dari tidur karena suara tangis bayi. Kali ini suaranya terdengar begitu jelas dari arah ruang tamu. Saya beranikan diri memeriksa keadaan ruang tamu, tetapi suara bayinya justru lenyap seketika. Anehnya, saat saya kembali ke kamar, suara tangisan itu terdengar lagi. Bulu kuduk saya meremang, malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak.

Esok sorenya ketika saya hendak membuang sampah, saya bertemu dengan tetangga yang baru saja melahirkan. Saya tanyakan, “Tante, kemarin malam bayinya nangis terus, ya? Suaranya kedengaran sampai rumah.”

Tetangga saya seketika bingung. “Kemarin tante nggak di rumah, nginep di ibu karena acara aqiqah diadakan di sana.” Sambil tertawa, beliau menambahkan, “Ribet kalau aqiqah-an di rumah, nggak ada yang bantuin masak.”

Saat itu juga, saya telepon orang tua agar lekas pulang jika urusan keluarga sudah selesai. Suara tangis bayi memang masih sesekali terdengar dari rumah kami. Tapi biasanya menghilang setelah kami berdoa.

Lama setelahnya, seorang saudara Mama yang kebetulan mengawasi proses pembangunan rumah kami bercerita. Katanya, ketika bagian ruang tamu digali untuk pemasangan pipa pembuangan air ke selokan, terdapat kerangka kecil. Paman saya menambahkan, melihat dari bentuknya, kerangka tersebut terlihat seperti tulang bayi, bukan binatang. Entah benar atau tidak, semoga tidak ada lagi gangguan gaib di rumah kami.

Ilustrasi: Flickr

Malam Pertama FDKH

573179356986657

Selama ini, FDKH hanyalah sebuah grup diskusi yang beraktivitas di dunia maya. Sebagai komunitas yang masih baru, kami belum berpikir serius untuk mengadakan kopi darat. Namun pada suatu malam, Ivan menghubungi saya dan mengajak FDKH untuk mengadakan acara di Catalyst Artshop. Awalnya, saya kebingungan, sebab komunikasi di antara anggota FDKH memang belum begitu solid. Mengisi timeline saja sulit, apalagi mengadakan acara di dunia nyata. Namun karena merasa ini adalah kesempatan yang baik, saya pun menerima tawaran tersebut.

Diskusi dan voting dilaksanakan di grup. Kebanyakan anggota mengaku kesulitan karena masalah waktu dan (lebih…)

Apa Ini?

Blog Diskusihoror adalah media publikasi Forum Diskusi Kepenulisan Horor (FDKH) yang digunakan untuk mewartakan kegiatan komunitas, dokumentasi, dan karya-karya anggota kepada khalayak umum.

FDKH sendiri adalah sebuah wadah diskusi dan obrolan seputar dunia fiksi horor, khususnya tulis-menulis. Saat ini FDKH masih melakukan aktivitas dunia maya di grup Facebook dan sesekali melakukan pertemuan di dunia nyata. Dengan keberadaan blog ini, kami berharap FDKH dapat menjadi lebih solid dan bermanfaat.